Oleh: Soesilo | Desember 27, 2007

Tahukah Anda….. ???

Cikal Bakal Sepeda

Belanda atau sering kita sebut dengan Holland atau Negeri kincir angin, penduduknya boleh berbangga memiliki negeri yang indah dan tim serta pemain sepakbola yang hebat-hebat ( sebut saja dulu di thn 70 an ada Johan C, era 90 an ada Ruud Gullit, Marco V.basten dan Frank rijkard dan masih banyak lagi ikon ikon sepakbola dari negeri ini ). Tetapi yang tidak kalah termasyurnya adalah negeri ini mendapat julukan negeri “ sepeda “.

Lho Koq bisa ….. Bayangkan saja, negeri yang hanya berpenduduk 16,3 juta jiwa memiliki populasi sepeda 18 juta sepeda atau sama juga artinya dengan 1.100 sepeda untuk 1.000 orang penduduk.

Ck.. ck… Luar Biasa ……!!!!

Saingan Belanda cuma Jerman yang punya 900 sepeda untuk 1.000 orang penduduk. Rata-rata setiap orang di Belanda mengayuh sepedanya sejauh 1.019 km setahun. Kalau dilihat, Jarak bukan menjadi masalah. Misalnya kalau hendak berpergian dari Bekasi – Mangga Dua / Kota, orang belanda tak akan segan mengayuh sepedanya dari rumah menuju stasiun Bekasi, terus naik kereta dan melanjutkan bersepeda dari stasiun BOS di Kota (bukan BEOS seperti kata abang-abang di glodok. BOS: Bataviasche Ooster Spoorweg tsah) menuju Mangga Dua. Kebanyakan diantara mereka memiliki dua sepeda atau sepeda lipat yang bisa dibawa di dalam kereta. Makanya seperti foto berikut, pemandangan lautan sepeda sangat jamak ditemui di setiap parkiran gratis di dekat stasiun.

Parkiran Sepeda

Pemerintah kota malah membuat jalur khusus untuk pengendara sepeda yang mirip-mirip jalur bus (busway), bedanya yang ini jarang mogok. Yang paling seru adalah kutipan tentang angka kecelakaan di dunia persepedaan Belanda ini. Tercatat 80 persen penyebab kecelakaan bukan karena tabrakan melainkan terjatuh sendiri dari sepeda. 9.200 kecelakaan terjadi pada anak-anak. 7.000 anak jatuh dari sepeda dan sisanya nabrak tiang listrik, nyerempet trotoar, atau nabrak tembok.

Jalur ” Bike-way “

Saking demennya itu orang-orang Belanda sama sepeda, mereka bahkan punya acara makan bersama pakai sepeda. Jadi kalau perlu, untuk acara makan malam bersama, mereka membawa sepeda ke resto-resto favorit… aiiih indahnya. Kebayang tuh kalo jemput pacar pake sepeda he..he..he…, kayak filmnya Mas Rano Karno dulu .

Begitulah cerita tentang kehidupan bersepeda di Negeri Sepeda Kincir Angin. Pesan yang bisa dipetik tentu saja ada. Mari kita galakkan kembali bersepeda, sambil kita mengenang dan merajut kenangan indah tempo dulu, merajut impian biar dunia kita lebih hijau dan jauh dari polusi.

Bukan polusi udara… tapi polusi mata nih…

Oleh: Soesilo | Desember 24, 2007

Selamat Tahun Baru

Tak terasa kita sudah sampai dipenghujung tahun 2007 dan sebentar lagi kita buka lembaran baru di tahun 2008. Keberhasilan & kegagalan yang mewarnai hidup kita dimasa lalu, kita jadikan cambuk dan pelajaran yang berharga untuk menatap masa depan. Semoga kita senantiasa mendapat ridho dan karunia Allah SWT untuk menyongsong tahun 2008.

PRIMA ONTEL CLUB” Mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU 2008 semoga Sukses dan berhasil dimasa yang akan datang.

8607-002-36-1027.gif

Oleh: Soesilo | Desember 24, 2007

Ayo kita ‘ngontel’ …..

Bersepeda ontel itu, menurutku, Indah, Unik dan Sehat, Karena sepeda ontel itu tidak hanya memberikan kepuasan lahir dan bathin bagi pemilik atau penikmatnya, juga tidak menggunakan bahan bakar yang mengeluarkan gas buang serta menambah pencemaran udara.

Bersepeda itu sama dengan olahraga. Menggerakkan otot-otot anggota tubuh, terutama di sektor kaki, khususnya dengkul, sekaligus ber aerobik. Berdasarkan pengalaman, setelah melakukan perjalanan cukup jauh, jantung berdetak lebih kencang, dan paru-paru butuh udara lebih banyak. Hidung pun tak cukup untuk menghirup udara, sampai harus dibantu mulut.

Apakah bersepeda ontel merupakan suatu tindakan tak waras ?

Bersepeda ontel itu sama dengan menggunakan alat transportasi lainnya. Moda transportasi roda dua yang ini terbilang tua, dan lazim digunakan generasi ayah-kakek kita. Bedanya, ayah-kakek kita menggunakannya untuk aktivitas sehari-hari, sedangkan kita sebagai sambilan / rekreasi / pengisi waktu senggang dan silaturahmi. Kalau ada sekelompok orang yang ingin mengembalikan sepeda ontel sebagai alat transportasi harian, apakah mereka bisa dibilang tak waras?

Kalau pun banyak orang yang mencibir, ” hareee genee masih ngontel “, itu mungkin karena di mata (sebagian) orang-orang modern, bersepeda di tengah kota itu terasa aneh. Dianggap aneh, karena populasinya langka. Kalau populasinya sudah banyak, bukan aneh lagi, tapi sudah jadi trend.

Marilah kita kikis keanehan bersepeda, ontel dengan menambah populasi sepeda di bumi ini. Bersepeda ontel adalah kebanggaan, karena bisa bertransportasi, sekaligus berolahraga, berekreasi, dan bersosialisasi.

Kalau “takut dianggap aneh”, aku mungkin tak akan mau menggenjot sepeda onthel Fongersku keluaran 1940 an, yang diberikan oleh bapak mertuaku dan merupakan sepeda turun menurun dikeluargaku –di tengah banyaknya sepeda modern.

Penjiwaan yang sedemikian dalam

Ngontel ditengah hiruk pikuk kota

100_5775.jpg

Oleh: Soesilo | November 19, 2007

POC Goes to JOGYESS (Part.2)

 

Catatan Harian kunjungan POC ke Yogyakarta :

Jum’at, tgl 16 November 2007

pukul. 18.10,
Sepulang bekerja seharian penuh di wilayah Thamrin Jakarta pusat aku berangkat menuju Stasiun Pasar Senen. Stasiun yang menjadi tempat dimana aku bertemu dengan kawan seperjuangan untuk menuju kota yogyakarta. Entah kenapa perasaan dan semangatku untuk pergi menuju yogya begitu besar sehingga aku berani menggung resiko untuk meninggalkan sejenak keluarga-ku yang tercinta di rumah. Kawan-kawan dari KOBA sekitar 6 orang sudah terlebih dulu datang dan menyapa untuk bersama menuju kota yang sama.

Pukul 19.20
Kereta api Senja Utama Yogyakarta bersiap berangkat untuk menempuh perjalanan jauh. Suasana rangkaian kereta tampak cukup padat maklum karena hari itu adalah Weekend. Setelah KA lepas dari St. Senen segera aku meng-contact rekan-rekan POC yang menunggu di St. Bekasi. Ya… kami memang selalu menjaga prinsip perkawanan dan persaudaraan, sehingga setiap event POC kita selalu memaksimalkan untuk dapat berangkat dan pergi bersama-sama. Tak lama kemudian kereta berhenti sejenak di St. Bekasi, segera saya melambaikan tangan untuk menyapa rekan-rekan POC untuk segera naik ke gerbong KA. Tampak raut wajah penuh keriangan serta semangat yang tinggi laksana prajurit yang akan berperang dibalut seragam bertuliskan “ POC Jalan-jalan “ tergambar di rekan-rekan POC semua. Suasana gerbong yang sebelumnya biasa-biasa saja menjadi berubah ramai dan gaduh oleh teman-teman POC. Jumlah keseluruhan anggota POC yang ikut untuk berkunjung ke Jogya berjumlah 17 orang.
Baca Lanjutannya…

Oleh: Soesilo | November 16, 2007

POC Goes to JOGYESS (Part.1)

Pulang ke kotamu….
Ada setangkup haru dalam rindu …
Masih seperti dulu …
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna …
Terhanyut aku akan nostalgi …
Saat kita sering luangkan waktu ….
Nikmati bersama ….
Suasana Jogja ….

Di persimpangan langkahku terhenti ….
Ramai kaki lima ….
Menjajakan sajian khas berselera ….
Orang duduk bersila ….
Musisi jalanan mulai beraksi ….
Seiring laraku kehilanganmu ….
Merintih sendiri ….
Ditelan deru kotamu ….

Walau kini kau t’lah tiada tak kembali …
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi ….
Ijinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi ….
Bila hati mulai sepi tanpa terobati ….

Lyrics and Song by KLA Project

Bersepeda di Yogya ; SIAPA TAKUT ….. ???

Julukan sebagai kota sepeda pernah disandang Jogja. Dulu, setiap pagi dan sore hari, seringkali ditemui gerembolan pemakai sepeda menelusuri jalan. Budaya bersepeda memang sempat lekat di masyarakat Jogja. Sampai perubahan datang.Orang Jogja pun banyak yang beralih menggunakan sepeda motor. Kota Jogja lambat laun bukan lagi merupakan kota sepeda. Predikat itu semakin memudar.

Ada sebuah ungkapan yang diasosiasikan kepada orang Jawa pada umumnya serta orang Jogja pada khususnya yaitu alon-alon waton kelakon . Ungkapan itu bisa diartikan kurang lebih sama dengan peribahasa ‘Biar Lambat Asal Selamat’. Nilai filosofis ungkapan itu tercermin pada pemilihan sepeda sebagai alat kendaraan.

Budaya kerja masa kini yang menuntut kecepatan tercermin dengan jelas dari perilaku pengguna jalan. Nilai-nilai yang terkandung dalam ‘ alon-alon waton kelakon ‘ atau ‘ ojo grusa-grusu ‘ perlahan mulai tergantikan dengan semboyan seperti think fast, move fast. Namun bukan berarti pemilihan sepeda sebagai alat transportasi merupakan gambaran kurang cekatan atau trengginasnya para pengguna sepeda karena , nilai-nilai yang terkandung dalam gremat-gremet waton selamat atau ojo grusa-grusu merupakan bukti bahwa orang Jawa lebih mementingkan keselarasan akal budi atau harmonisasi.

Jika sepeda merupakan alat transportasi yang banyak digunakan oleh penduduk di negara maju, yang jelas kita tahu mereka dikenal disiplin dan tidak klemar-klemer, lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita berani kembali bersepeda tanpa takut dibayangi anggapan-anggapan kuno, lambat, dan lain sebagainya? AYO KAWAN …. MARI KITA BER-ONTHEL DI KOTA YANG PENUH SEJARAH YOGYAKARTA HADININGRAT.

Salah satu sudut kota jogja

Ontel di kala senja

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »

Kategori