Oleh: Soesilo | November 16, 2007

POC Goes to JOGYESS (Part.1)

Pulang ke kotamu….
Ada setangkup haru dalam rindu …
Masih seperti dulu …
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna …
Terhanyut aku akan nostalgi …
Saat kita sering luangkan waktu ….
Nikmati bersama ….
Suasana Jogja ….

Di persimpangan langkahku terhenti ….
Ramai kaki lima ….
Menjajakan sajian khas berselera ….
Orang duduk bersila ….
Musisi jalanan mulai beraksi ….
Seiring laraku kehilanganmu ….
Merintih sendiri ….
Ditelan deru kotamu ….

Walau kini kau t’lah tiada tak kembali …
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi ….
Ijinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi ….
Bila hati mulai sepi tanpa terobati ….

Lyrics and Song by KLA Project

Bersepeda di Yogya ; SIAPA TAKUT ….. ???

Julukan sebagai kota sepeda pernah disandang Jogja. Dulu, setiap pagi dan sore hari, seringkali ditemui gerembolan pemakai sepeda menelusuri jalan. Budaya bersepeda memang sempat lekat di masyarakat Jogja. Sampai perubahan datang.Orang Jogja pun banyak yang beralih menggunakan sepeda motor. Kota Jogja lambat laun bukan lagi merupakan kota sepeda. Predikat itu semakin memudar.

Ada sebuah ungkapan yang diasosiasikan kepada orang Jawa pada umumnya serta orang Jogja pada khususnya yaitu alon-alon waton kelakon . Ungkapan itu bisa diartikan kurang lebih sama dengan peribahasa ‘Biar Lambat Asal Selamat’. Nilai filosofis ungkapan itu tercermin pada pemilihan sepeda sebagai alat kendaraan.

Budaya kerja masa kini yang menuntut kecepatan tercermin dengan jelas dari perilaku pengguna jalan. Nilai-nilai yang terkandung dalam ‘ alon-alon waton kelakon ‘ atau ‘ ojo grusa-grusu ‘ perlahan mulai tergantikan dengan semboyan seperti think fast, move fast. Namun bukan berarti pemilihan sepeda sebagai alat transportasi merupakan gambaran kurang cekatan atau trengginasnya para pengguna sepeda karena , nilai-nilai yang terkandung dalam gremat-gremet waton selamat atau ojo grusa-grusu merupakan bukti bahwa orang Jawa lebih mementingkan keselarasan akal budi atau harmonisasi.

Jika sepeda merupakan alat transportasi yang banyak digunakan oleh penduduk di negara maju, yang jelas kita tahu mereka dikenal disiplin dan tidak klemar-klemer, lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita berani kembali bersepeda tanpa takut dibayangi anggapan-anggapan kuno, lambat, dan lain sebagainya? AYO KAWAN …. MARI KITA BER-ONTHEL DI KOTA YANG PENUH SEJARAH YOGYAKARTA HADININGRAT.

Salah satu sudut kota jogja

Ontel di kala senja


Tanggapan

  1. kalau di bantul sih tiap pagi dan sore masih ‘lumayan’ banyak orang yang naek sepeda

  2. yogya…yogya.kapan aku bisa hidup kembali dan kembali ke jogja.maafkan aku jogja karna aku tak mau inget2 masa laluku yg dulu

    from:GKR NIMAS DEWI HANUM.

  3. gabung dooonk ke POC..
    RUMAH SAYA di JATIBENING koq..
    boleeh yaaa..


Beri tanggapan

Your response:

Kategori